Tampilkan postingan dengan label Tugas Karakter 09. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Karakter 09. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 Januari 2017
Berani Mengambil Resiko Yuk !
Rabu, 04 Januari 2017
Mengambil Resiko
Risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang
dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang
akan datang. Dalam bidang asuransi, risiko dapat diartikan sebagai suatu
keadaan ketidakpastian, di mana jika terjadi suatu keadaan yang tidak
dikehendaki dapat menimbulkan suatu kerugian.
Jenis-jenis
risiko yang umum di kenal dalam usaha asuransi antara lain meliputi:
• Risiko murni atau pure risk adastian terjadinya
suatu kerugian atau dengan kata lain hanya ada suatu peluang merugi dan bukan
suatu peluang keuntungan. Risiko murni adalah suatu risiko yang bilamana
terjadi akan memberikan kerugian dan apabila tidak terjadi maka tidak
menimbulkan kerugan namun juga tidak menimbulkan keuntungan. Risiko ini
akibatnya hanya ada 2 macam: rugi atau break event, contohnya adalah pencurian,
kecelakaan atau kebakaran.
• Risiko spekulatif atau speculative risk adalah
risiko yang berkaitan dengan terjadinya dua kemungkinan, yaitu peluang
mengalami kerugian financial atau memperoleh keuntungan. Risiko ini akibatnya
ada 3 macam: rugi, untung atau break event, contohnya adalah investasi saham di
bursa efek, membeli undian dan sebagainya.
• Risiko individu atau individual risk adalah
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Misalnya
risiko yang akan tibul bila kita memiliki rumah, mobil, melakukan investasi
usaha, atau menyewa apartemen. Risiko ini di bagi ke dalam tiga macam risiko,
yaitu:
Risiko pribadi atau personal risk, adalah risiko
yang mempengaruhi kapasitas atau kemampuan seseorang dalam memperoleh
keuntungan, cotohnya adalah mati muda, uzur, cacat fisik, dan kehilangan
pekerjaan.
Risiko harta atau property risk adalah risiko
terjadinya kerugian keuangan apabila kita memiliki suatu benda atau harta.
Yaitu adanya peluang harta tersebut untuk hilang, di curi, atau rusak.
Kehilangan suatu harta dapat di bedakan menjadi dua jenis:
a)Kerugian langsung atau direct losses terjadi
apabila harta kita hilang atau rusak. Kerugian finansial terjadi karena kita
kehilangan nilai dari harta tersebut, uang yang kita investasikan di dalamnya
dan biaya yang di gunakan untuk menggantikannya.
b)Kerugian tidak langsung atau indirect losses
(consequential) adalah setiap kerugian yang terjadi akibat kerugian asal
(original losses). Contoh dari kerugian ini adalah kehancuran rumah karena
bencana alam sehingga kita harus mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal
sementara dan renovasi rumah.
Risiko tanggung gugat atau liability risk adalah
risiko yang mungkin kita alami atau derita sebagai tanggung jawab akibat
kerugian atau lukanya pihak lain. Jika kita mennggung kerugian seseorang, maka
kita harus membayarnya, sehingga kerugian pihak lain menyebabkan kita mengalami
kerugian finansial. Contohnya adalah memberi ganti rugi kepada orang akibat
anda menabraknya.
Agar
berani mengambil risiko, paling tidak seseorang mesti memiliki beberapa hal:
Pertama, berbaik sangka kepada Allah
Meyakini adanya takdir buruk yang datang dari Allah
adalah bagian dari keimanan. Takdir buruk terjadi atas izin Allah dan ada yang
benar-benar menjadi cobaan maupun pelajaran bagi manusia. Namun, ada juga
takdir buruk yang justru terjadi karena keteledoran manusia.
Bagi siapapun yang ingin menggapai impiannya, jika
dia berani berikhtiar, maka dia mesti yakin bahwa ikhtiarnya benar-benar berada
dalam naungan Allah, berada dalam ridha Allah. Keberanian untuk menerima hasil
dengan segala macam risiko yang ditimbulkannya termasuk berbaik sangka kepada
Allah. Nah, jika apa yang dia dapatkan kelak adalah satu di antara takdir Allah
Yang Maha Kuasa di atas segalanya, lantas alasan apalagi yang membuatnya tidak
semangat?
Kedua, yakin bahwa kesuksesan punya proses
Hampir tak ada kejadian yang tidak melalui proses.
Orang hidup saja melalui proses. Dilahirkan dan begitu seterusnya. Begitu juga
orang mati, dia mesti melalui sakaratul maut. Dan begitu seterusnya. Dalam
konteks yang lain, hampir tak ada yang mendapatkan kesuksesan tanpa usaha serta
tantangan yang bergulat di dalamnya.
Dengan demikian, jika seseorang ingin meraih impian
atau menggapai kesuksesan, maka dia mesti melalui proses atau
langkah-langkahnya. Dia harus percaya bahwa menggapai kesuksesan itu pasti
melalui langkah-langkah. Selain itu, kesuksesan juga butuh waktu pencapaian.
Kesuksesan tidak didapatkan seketika saja, dia butuh waktu yang kadang tak
sedikit. Jika langkah-langkah yang sudah tersusun mengalami kendala pencapaian,
maka itu pertanda impian tersebut butuh langkah-langkah baru yang lebih kreatif
dan fleksibel.
Ketiga, percaya bahwa semuanya berisiko
Memiliki impian itu gratis, tapi menjadikannya
sebagai sesuatu yang nyata atau mewujudkannya butuh kerja keras dan berisiko
tinggi. Satu hal yang mesti dimiliki adalah berani mengambil sekaligus menerima
risiko. Mengapa? Karena tidak ada yang diperoleh dalam hidup ini yang tidak
berisiko. Risiko membangun bisnis adalah bangkrut atau rugi, risiko menjadi
penulis adalah ditolak penerbit, risiko menjadi aktivis literasi ditinggal
pembaca, risiko menjadi pemimpin adalah dihina, risiko menjadi pembalap adalah
tabrakan, risiko menjadi orang kaya adalah kemiskinan, risiko menjadi orang
jujur adalah pengasingan. Begitu seterusnya. Dengan adanya kesadaran bahwa
semuanya berisiko, seseorang akan matang secara psikologis. Di samping itu, dia
juga akan berusaha sejak dini untuk mencari solusi dari kemungkinan-kemungkinan
yang terjadi ke depan. Dengan adanya risiko, seseorang menjadi antisipatif
dalam melakoni kehidupannya.
Keempat, percaya diri atas hasil usaha
Orang sukses adalah dia yang siap menerima hasil
akhir dari usaha maksimalnya. Apapun impiannya, jika perwujudannya dilalui
dengan langkah-langkah terbaik dan dilalui dengan sungguh-sungguh, apapun
hasilnya, itu adalah keberhasilan. Dia sangat percaya bahwa apa yang sudah
dilaluinya adalah satu perjuangan yang tak sia-sia. Dia sangat yakin akan
mendapatkan hasil terbaik. Dia percaya bahwa apa yang diperolehnya adalah hasil
usaha dan pembuktian dari keringatnya sendiri. Dia bangga dengan hasil apapun
yang dia dapatkan dari usahanya.
Kelima, percaya akan peluang
Orang sukses selalu meyakini bahwa satu jalan tempuh
yang sudah dicoba dan menghasilkan sesuatu yang belum memuaskan bukanlah hasil
akhir yang sesungguhnya. Itu justru pertanda bahwa dia mesti menata kembali
langkah-langkah sebelumnya, atau jika tidak, dia mesti mencari jalan atau
langkah-langkah baru yang lebih jitu. Sebab dia yakin bahwa peluang itu selalu
terbukan bagi siapapun yang menginginkan kesuksesan. Bukankah Allah akan
memberi pertolongan kepada mereka yang bersungguh-sungguh?
Menanti hasil adalah aktivitas yang kadang
membutuhkan banyak tenaga. Kecemasan selalu menjadi selingan dominan di
dalamnya. Ya, itulah yang saya alami. Saya percaya Anda pernah mengalami apa
yang saya alami. Tapi dalam penantian yang dilapis kecemasan tersebut selalu
ada inspirasi yang hadir, termasuk untuk membuat tulisan sederhana sekalipun.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.(2016). Risiko. [online]. Tersedia :
Kadir, syamsudin. (2012). Berani-mengambil-resiko. [online].
Tersedia :
https://akarsejarah.wordpress.com/2012/07/30/berani-mengambil-risiko/
Kamis, 22 Desember 2016
MENGAMBIL RESIKO
Mengambil Resiko
Risiko adalah
sesuatu yang selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang
merugikan yang tidak terduga dan tidak diharapkan.
Hasil yang dicapai dari suatu kegiatan jarang sekali dapat diramalkan dengan hasil yang sempurna. Pada umumnya terjadi penyimpangan, biarpun kecil. Risiko selalu terjadi bila keputusan yang diambil menggunakan criteria peluang (decision under risk) atau criteria ketidakpastian (decision under uncertainly). Pada umumnya untuk risiko menghitung dipakai nilai yang diperkirakan (expected value) atau angka penyimpangan (variance).
Bagi seorang wirausaha, menghadapi risiko adalah tantangan karena mengambil risiko berkaitan dengan kreativitas dan inovasi serta merupakan bagian penting dalam mengubah ide menjadi karyawan.
Pengambilan risiko adalah hal yang hakiki dan wajar dalam merealisasi potensi diri sebagai wirausaha. Pengambilan risiko dalam hidup melibatkan suatu kesadaran akan peristiwa-peristiwa yang terjadi, perhatian untuk masa depan dan keinginan hidup di masa sekarang. Sebagai seorang wirausaha harus sadar bahwa pertumbuhan usaha di masa yang akan datang merupakan hasil keuntungan peluang usaha masa sekarang dan dalam pengambilan risiko untuk mencapai tujuan usaha atau bisnis.
Hasil yang dicapai dari suatu kegiatan jarang sekali dapat diramalkan dengan hasil yang sempurna. Pada umumnya terjadi penyimpangan, biarpun kecil. Risiko selalu terjadi bila keputusan yang diambil menggunakan criteria peluang (decision under risk) atau criteria ketidakpastian (decision under uncertainly). Pada umumnya untuk risiko menghitung dipakai nilai yang diperkirakan (expected value) atau angka penyimpangan (variance).
Bagi seorang wirausaha, menghadapi risiko adalah tantangan karena mengambil risiko berkaitan dengan kreativitas dan inovasi serta merupakan bagian penting dalam mengubah ide menjadi karyawan.
Pengambilan risiko adalah hal yang hakiki dan wajar dalam merealisasi potensi diri sebagai wirausaha. Pengambilan risiko dalam hidup melibatkan suatu kesadaran akan peristiwa-peristiwa yang terjadi, perhatian untuk masa depan dan keinginan hidup di masa sekarang. Sebagai seorang wirausaha harus sadar bahwa pertumbuhan usaha di masa yang akan datang merupakan hasil keuntungan peluang usaha masa sekarang dan dalam pengambilan risiko untuk mencapai tujuan usaha atau bisnis.
situasi berisiko terjadi jika anda diminta membuat pilihan antara
dua alternati"
atau lebih, yang bakal hasilnya tidak diketahui dan harus dinilai secaraobyekti". !ituasi ini mengandung potensi
kegagalanb dan potensi sukses. !emakinbesar
kemungkinan kerugian, semakin besar risikonya.!ebagai pengambil risiko anda harus emngambil keputusan dalam situasi penuh ketidakpastian, sambil menimbang kemungkinan
sukses dan ruginya
Rabu, 21 Desember 2016
Mengambil Resiko
Menambil Resiko
Hidup
manusia di dunia tidak lepas dari dua hal berikut: peluang dan resiko. Nasib
setiap orang lebih banyak ditentukan oleh bagimana keduanya ditangkap dan
dikelola daripada oleh yang lainnya. Peluang dan resiko ibarat dua sisi dari
sekeping mata uang. Keduanya lekat tak terpisah. Menangkap peluang berarti
sekaligus berani mengambil resikonya. Tidak ada peluang tanpa resiko.
Sebaliknya, resiko adalah konsekuensi logis dari pilihan kita untuk menangkap
setiap peluang. Memilih untuk menjadi pegawai, resikonya harus siap diperintah
atasan. Sebaliknya, memilih untuk menjadi wirausahawan, resikonya penghasilan
sering tidak menentu. Memilih untuk melamar anak orang, resikonya harus siap
(saling) berbagi dan menanggung hidup masing-masing. Sebaliknya memilih hidup
membujang, resikonya tiap hari kesepian di rumah, apalagi kalau malam datang,
dan lain-lain.
Orang sering
takut mengambil peluang karena takut resikonya. Pun setelah peluang diambil,
banyak orang gagal karena tidak bisa mengatasi resiko. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa keberhasilan sejatinya adalah resultan dari usaha seseorang dalam
menangkap peluang dan mengatasi resikonya. Orang yang ingin berhasil - dalam
hal apapun, dengan demikian, harus punya keberanian untuk menangkap peluang dan
mengambil resikonya sekaligus. Menangkap peluang berarti menjadi orang-orang
pertama (pioner) yang take action atas sesuatu hal. Sementara mengambil resiko
diartikan sebagai tidak takut pada resiko serta punya bekal ilmu dan rencana
untuk mengatasi resiko tersebut. Keberaniaan terakhir akan kita jadikan ciri
kesekian dari orang hebat.
Ada 2
karakteristik resiko:
1.
Ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa
2.
Ketidakpastian yang bila terjadi akan menimbulkan kerugian
Ada beberapa
penyebab kegagalan
usaha :
~
Perencanaan yang kurang matang
~
Kurangnya modal
~
Bakat yang tidak cocok
~
Kurang pengalaman
~
Lemahnya pemasaran
~
Tidak mempunyai semangat berwirausaha
~
Tidak mempunyai etos kerja yang tinggi
B.
Macam-macam resiko:
Menurut
sifat,
dibedakan
:
Resiko Murni«
Yaitu resiko
yang terjadi pasti akan menimbulkan kerugian dan terjadinya tanpa sengaja.
Misal:
kebakaran. bencana alam, pencurian dan sebagainya
Resiko Spekulatif«
Yaitu resiko
yang sengaja ditimbulkan oleh yang bersangkutan agar memberikan keuntungan bagi
pihak tertentu.
Misal: utang
piutang, perdagangan berjangka, dan sebagainya
Resiko Fundamental«
Yaitu resiko
yang penyebabnya tidak dapat dilimpahkan kepada seseorang dan yang menderita
cukup banyak.
Misal:
banjir, angin topan, dan sebagainya.
Mengambil
Risiko juga sering dikaitkan dengan membuka usaha. Wirausaha sering dikenal
sebagai orang yang mampu membuka usahanya sendiri dan menciptakan lapangan
pekerjaan bagi orang lain. Menurut KBBI, wirausahawan merupakan orang yang
pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam
berproduksi, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan
operasinya, serta memasarkanya. Seorang wirausaha harus mampu menciptkan
sesuatu yang berbeda dan mampu menangkap peluang yang ada.
Salah satu
karakteristik seorang wirausaha yaitu berani mengambil resiko. Apakah yang
dimaksud dengan resiko? Bagaimana pandangan wirausaha mengenai resiko? dan
apakah pengambilan resiko itu sama pengertiannya bagi setiap orang? Resiko
dapat diartikan sebagai suatu ketidakpastian dimasa yang akan datang dan
dapat diartikan juga sebagai suatu konsekuensi yang memunculkan dampak yang
merugikan.
Resiko bagi
para wirausaha bukanlah sebagai suatu hambatan untuk meraih kesuksesan tetapi
dijadikan sebagai suatu tantangan. Wirausaha adalah orang yang lebih menyuka
ihal-hal yang menantang untuk lebih mencapai kesuksesan dalam hidupnya.
Pengambilan resiko menurut perspektif wirausaha yaitu dengan mengambil resiko
yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Karena seorang wirausaha
selalu ingin berhasil mereka menjauhi resiko yang tinggi, dan menghindari
resiko yang lebih rendah karena bagi mereka tidak ada tantangan.
Dalam
pengambilan resiko para wirausaha selalu memperhitungkan matang-matang
keputusan yang akan diambil. Pengambilan resiko berkaitan erat dengan
kepercayaan diri. Semakin besar keyakinan pada kemampuan diri sendiri, semakin
besar pula keyakinan dalam mempengaruhi hasil dan keputusan, serta semakin siap
pula mencoba apa yang menurut orang lain penuh dengan resiko.
Yang
membedakan seorang wirausaha dengan yang lainnya adalh kesiapan dalam
pengambilan resiko. Kebanyakan orang lebih suka berada dalam titik yang aman
dan nyaman dengan tidak mengambil hal yang beresiko atau lebih memilih resiko
yang lebih rendah. Berbeda dengan wirausaha resiko dijadikan sebagai tantangan
untuk mencapai kesuksesan, bukan suatu hambatan yang menjadikan kita gagal.
Bagaimana
jika….
Bagaimana
jika saya gagal dan tidak bisa bangkit lagi?
Bagaimana
jika saya tidak bisa membayar utang?
Bagaimana
jika saya gagal terus menerus?
Jika Anda
gagal, bangkit lagi, coba lagi. Jika Anda tidak punya uang, maka cari uang
lagi. Jika Anda gagal terus, artinya Anda tidak pernah belajar. Jika kita
terjebak dengan bagaimana jika, bagaimana jika, dan seterusnya, kita tidak akan
pernah bertindak, sebab hanya hal negatif yang akan datang ke pikiran kita.
Memang, ada
cara untuk mengurangi resiko. Dan ini yang harus Anda lakukan. Yaitu,
tingkatkan kualitas, kapasitas, dan ilmu Anda sebelum bertindak. Jangan hanya
mengatakan beresiko, tetapi Anda diam saja. Belajarlah, take action! Dalam
video Bisnis Anti Gagal, saya sudah membahas secara lengkap bagaimana cara
mengurangi resiko, hingga sekecil mungkin. Tujuannya agar Anda lebih berani
mengambil resiko, sebab resikonya sudah sangat kecil.
Tahap
perencanaan resiko
Petunjuk
mengenai tahap perencanaan resiko:
1.
Kenali sumber resiko
Mengidentifikasi
sebanyak mungkin sumber resiko
Membentuk
tim kerja
Adakan
pembahasan dengan sumbang saran
Pertimbangkan
hati-hati susunan tim yang wajar agar pembahasan lebih efektif
Sumber
potensial dikelola
Carilah
seseorang yang trampil menemukan apa-apa
2.
Hindari resiko
Hal-hal yang
dapat mencegah sunber resiko secara potensial adalah:
Pertimbangkan
bagaimana potensi resiko dapat dibicarakan
Gunakan
tenaga ahli untuk pembicaraan
Carilah
pengalaman baru dalam menangani masalah
Pertimbangkan
bagaimana resiko dapat dipindahkan
Berilah
imbalan kepada para ahli yang membantu memecahkan masalah
3.
Kendalikan manajemen
Pengendalian
yang baik diperlukan dalam kasus apapun dan pimpinan bersama staf harus
memonitor kemajuan teknik proyek setiap waktu untuk menemukan masalah sedini
mungkin, sehingga dapat mengadakan perbaikan
4.
Asuransikan
beberapa
resiko misalnya kegagalan pemasok dan kerusakan pada peralatan kritis.
Kelayakan produk atau asuransi jaminan profesi atau garansi pemerintah yang
dapat dipakai untuk mengurangi finansialexposure akibat ulah pelanggan yang ada
di Negara lain.
5.
Resiko yang tertinggal.
Kemungkinan
resiko yang dulu terjadi lagi
Tindakan ini
berupa mengubah ruang lingkup proyek atau memodifikasi sasarannya.
6.
Perencanaan scenario
Teknik ini
dilakukan dengan melihat bahaya yang mungkin terjadi atau scenario alternative
dari faktor yang menyebabkan ketidakpastian. Setelah itu lalu merencanakan
setiap scenario dilakukan secara mendetail.
Daftar
Pustaka :
Komar, A.
2014. Belajar Dari Jengis Khan (Mengendalikan diri). http://www.kompasiana.com/akayaka/belajar-dari-jengis-khan-pengendalian-diri_54f845dca33311641e8b5641. (Diakses 23-11-2016)
Anonim.
2011. Mengendalikan Diri Sendiri. http://superkomplit.blogspot.co.id/2011/03/mengendalikan-diri-sendiri.html. (Diakses 23-11-2016)
Yudiono, H.
2015. 7 Cara Efektif Mengendalikan Diri. http://www.tipspengembangandiri.com/cara-mengendalikan-emosi/. (Diakses 23-11-2016)
Mengambil Rediko
Risiko adalah tolak ukur seseorang. Orang yang
berani mengambil risiko adalah mereka yang berusaha untuk menjaga semangat
dalam dirinya ketika melalui langkah-langkah dan menikmati hasil usahanya.
Artinya, orang berhasil bukan sekadar karena melalui langkah-langkah
pencapainnya, tapi juga siap menerima risiko yang ditimbulkannya. Merekalah
orang sukses yang sesungguhnya.
Ya, untuk meraih sukses,
seseorang perlu keberanian untuk mengambil suatu kesempatan yang berisiko. Coba
bayangkan ketika Anda menginginkan suatu benda di dalam ruang tertutup dengan
kunci baja di sebelah rumah
berani mengambil resiko
Saya
berani jamin banyak orang di antara kita yang tidak menyukai kata atau hal-hal
yang berhubungan dengan resiko. Karena bagi orang kita (Indonesia) resiko itu
kurang menyenangkan, merugikan, bahkan membahayakan (http://kamusbahasaindonesia.org). Jadi kalau kalimat
‘mengambil resiko’ diterjemahkan secara bebas akan menjadi suatu tindakan yang
merugikan, membahayakan atau kurang menyenangkan. Tetapi hal ini tidak terjadi
dalam bahasa Inggris, kalimat ‘mengambil resiko’ (take a risk) akan mempunyai makna
‘mendapatkan keuntungan’ (‘Take a risk in the hope of a favorable outcome’ www.
sederet.com)
atau peribahasa yang populer “No pain, no gain,” dengan kata lain “No risk, no gain.” Untuk menguji tesis bahwa orang kita selalu takut (menghindari)
resiko adalah melalui pertanyaan berikut “Orang yang suka mengambil resiko itu
masuk golongan orang bodoh atau orang pintar?” Saya yakin jawabannya di atas
60% responden menjawab orang yang suka mengambil resiko itu orang bodoh, saya
pernah uji hal ini dalam pertemuan dengan Local Coach OPI Area Bekasi. Mengapa demikian? Karena definisi kata resiko
dalam bahasa Indonesia kurang menguntungkan. Padahal, orang yang berani
mengambil resiko itu adalah masuk golongan orang pintar karena dia pasti
berhitung dulu sebelum mengambil keputusan. Orang yang mau mengambil resiko itu
adalah seorang yang mau belajar dan terus belajar (pembelajar), belajar dari
pengalaman, dari kebodohan dan dari kerugian yang pernah dialami sampai dia
mengerti bahwa mengambil resiko itu mempunyai keuntungan.
Di
dalam hidup ini setiap keputusan yang kita ambil selalu mengandung resiko,
sebagai contoh: kita memutuskan untuk makan maka resikonya kenyang, kita
memutuskan tidak makan maka resikonya lapar. Dan perlu diketahui di dalam
sesuatu yang mengandung resiko besar selalu mempunyai tingkat keamanan yang
tinggi, misalnya pesawat terbang lebih beresiko daripada bus tetapi tingkat
keamanannya jauh lebih baik daripada bus karena mempunyai peralatan yang mampu
mengkompensasi resiko. Demikian juga dengan olahraga yang beresiko tinggi
seperti terjun payung, bungee jumping, menyelam juga mempunyai
peraturan dan peralatan pengaman yang mempunyai tingkat kemanan cukup tinggi.
Bandingkan dengan
orang-orang yang membuka warung atau tempat usaha di pinggir jalan raya. Dewasa
ini membuka usaha di tepi jalan raya sepertinya sudah menjadi hal yang lazim.
Apakah mereka masuk golongan pengambil resiko? Jawabannya bisa beragam, ada
yang jawab mereka tidak mengerti apa itu resiko karena yang mereka pahami
adalah bagaimana berusaha. Ada yang menjawab mereka orang nekat dan tidak
peduli akan resiko yang akan terjadi, tidak perlu dihitung resikonya, yang
penting usaha jalan. Ada banyak contoh lain orang-orang yang tidak mengetahui
resiko atau dampak yang akan terjadi, seperti orang yang naik di atap kereta,
orang yang bekerja tanpa alat pelindung diri dan lain sebagainya. Pada intinya
mereka yang masuk kelompok ini adalah orang-orang yang tidak peduli terhadap
resiko yang akan datang.
Sekarang bagaimana dengan
kepemimpinan PLN? Pemimpin seperti apa yang diperlukan PLN dalam hubungannya
dengan resiko? Tentu saja para pemimpin yang berani mengambil resiko, bukan
pemimpin yang tidak peduli dengan resiko sehingga nekat memanfaatkan peluang
untuk keuntungan pribadi. Bukan pula mereka yang takut mengambil resiko
sehingga menyebabkan roda perushaan tidak berputar bahkan menyebabkan masalah
dalam perusahaan. Pemimpin yang berani mengambil resiko adalah pemimpin yang
mengerti manajemen resiko, bisa menghitung resiko, mengerti bahwa resiko itu
selalu ada dan bisa dipilah-pilah menjadi rendah, sedang dan tinggi, serta
dapat melakukan mitigasi terhadap kegiatan yang berpotensi beresiko tinggi.
Itulah sebagian gambaran pemimpin yang berani mengambil resiko.
Selanjutnya,
saya berikan beberapa contoh kecil dari para pemimpin yang berani mengambil
resiko, namun sebelumnya saya mohon maaf jika hal ini menimbulkan perbedaan
interprestasi. Contoh ini menyangkut Pak Ujang Yani dan Ibu Hani Rohani yang
mendapatkan hadiah untuk magang satu hari sebagai Manajer Area. Sebelumnya
perlu saya jelaskan bahwa Pak Ujang dan Bu Hani ini telah menjadi peserta
terbaik dalam acara Boot Camp OPI di PLN Area Bekasi bulan April lalu, karena OPI itu juga
merupakan kegiatan kepemimpinan maka hadiahnya juga berupa kesempatan memimpin.
Maka jadilah Pak Ujang Yani dan Bu Hani Rohani sebagai Manajer Area Bekasi,
pada hari Selasa tanggal 1 Mei 2012 dan Senin 7 Mei 2012. Tanpa banyak yang
tahu di dua hari itu PLN Area Bekasi dipimpin oleh Pak Ujang dan Bu Hani,
apakah hal ini nggak beresiko? Tentu saja beresiko, tapi saya kan mendampingi
mereka (melakukan tandem), jadi seperti mengajari anak saya yang belajar naik
motor, saya segera melakukan tindakan jika ada sesuatu bahaya. Saya masih ingat
bahwa pada hari itu Pak Ujang berani mengambil dua keputusan besar yang
berkenaan dengan hubungan kerja antara bagian Perencanaan dan Konstruksi, serta
pekerjaan yang berhubungan dengan rumah dinas Manajer Area. Sementara Bu Hani
memberikan disposisi kepada para Asisten Manajer dan Manajer Rayon yang berisi
tugas untuk menyelesaikan persoalan tunggakan. Mengapa mereka berani mengambil
resiko (keputusan) jika mengingat saat itu secara struktur jabatan beliau
berdua belum diperkenankan? Hal ini karena ada saya selaku mentor dan Manajer
yang dekat dengannya. Paling tidak jika suatu hari keputusan yang telah diambil
salah maka saya yang akan menanggung akibatnya (he he he). Ternyata sampai
dengan saat ini keputusan yang telah dibuat Pak Ujang dan Bu Hani saat
melakukan magang sebagai Manajer Area ternyata good-good only (baik-baik saja/bahasa Inggris ngaco). Saya mendapat pelajaran
ternyata anggota perusahaan PLN Area Bekasi ini adalah para pemimpin yang
berani mengambil resiko, di mana pun posisinya mereka bisa mengambil keputusan
(resiko) dengan baik.
Selamat menjadi pemimpin
yang berani mengambil resiko!
Berani Mengambil Resiko
Di
dalam hidup ini setiap keputusan yang kita ambil selalu mengandung resiko,
sebagai contoh: kita memutuskan untuk makan maka resikonya kenyang, kita
memutuskan tidak makan maka resikonya lapar. Dan perlu diketahui di dalam
sesuatu yang mengandung resiko besar selalu mempunyai tingkat keamanan yang
tinggi, misalnya pesawat terbang lebih beresiko daripada bus tetapi tingkat
keamanannya jauh lebih baik daripada bus karena mempunyai peralatan yang mampu
mengkompensasi resiko. Demikian juga dengan olahraga yang beresiko tinggi
seperti terjun payung, bungee jumping, menyelam juga mempunyai peraturan
dan peralatan pengaman yang mempunyai tingkat kemanan cukup tinggi.
Bandingkan
dengan orang-orang yang membuka warung atau tempat usaha di pinggir jalan raya.
Dewasa ini membuka usaha di tepi jalan raya sepertinya sudah menjadi hal yang
lazim. Apakah mereka masuk golongan pengambil resiko? Jawabannya bisa beragam,
ada yang jawab mereka tidak mengerti apa itu resiko karena yang mereka pahami
adalah bagaimana berusaha. Ada yang menjawab mereka orang nekat dan tidak
peduli akan resiko yang akan terjadi, tidak perlu dihitung resikonya, yang
penting usaha jalan. Ada banyak contoh lain orang-orang yang tidak mengetahui
resiko atau dampak yang akan terjadi, seperti orang yang naik di atap kereta,
orang yang bekerja tanpa alat pelindung diri dan lain sebagainya. Pada intinya
mereka yang masuk kelompok ini adalah orang-orang yang tidak peduli terhadap
resiko yang akan datang.
Hidup manusia di dunia tidak lepas dari dua hal berikut:
peluang dan resiko. Nasib setiap orang lebih banyak ditentukan oleh bagimana
keduanya ditangkap dan dikelola daripada oleh yang lainnya. Peluang dan resiko
ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya lekat tak terpisah. Menangkap
peluang berarti sekaligus berani mengambil resikonya. Tidak ada peluang tanpa
resiko. Sebaliknya, resiko adalah konsekuensi logis dari pilihan kita untuk
menangkap setiap peluang. Memilih untuk menjadi pegawai, resikonya harus siap
diperintah atasan. Sebaliknya, memilih untuk menjadi wirausahawan, resikonya penghasilan
sering tidak menentu. Memilih untuk melamar anak orang, resikonya harus siap
(saling) berbagi dan menanggung hidup masing-masing. Sebaliknya memilih hidup
membujang, resikonya tiap hari kesepian di rumah, apalagi kalau malam datang,
dan lain-lain.
Orang sering takut mengambil peluang karena takut resikonya. Pun setelah peluang diambil, banyak orang gagal karena tidak bisa mengatasi resiko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keberhasilan sejatinya adalah resultan dari usaha seseorang dalam menangkap peluang dan mengatasi resikonya. Orang yang ingin berhasil - dalam hal apapun, dengan demikian, harus punya keberanian untuk menangkap peluang dan mengambil resikonya sekaligus. Menangkap peluang berarti menjadi orang-orang pertama (pioner) yang take action atas sesuatu hal. Sementara mengambil resiko diartikan sebagai tidak takut pada resiko serta punya bekal ilmu dan rencana untuk mengatasi resiko tersebut. Keberaniaan terakhir akan kita jadikan ciri kesekian dari orang hebat.
Keberaniaan mengambil resiko dalam pengertian di atas menjadikan orang tidak asal ambil resiko atau asal ambil peluang, tapi benar-benar keberaniaan yang didasarkan pada perhitungan yang memadai, bukan ke-nekad-an. Banyak orang gagal karena hal terakhir. Maunya dibilang berani, tapi sesungguhnya nekad. Banyak orang maunya berwirausaha, tapi malah jadi pengangguran. Banyak orang ingin rumah tangganya bahagia, tapi malah sebaliknya, dst. Apa yang dimaksud dengan perhitungan yang memadai sesungguhnya ada pada aspek perencanaan setiap orang. Sekali lagi, ini menegaskan betapa pentingnya perencanaan dan komitmen pelaksanaannya. Orang hebat punya itu. Punya rencana dan punya komitmen pelaksanaan. Sehingga ketika masanya tiba, peluang tak akan lari kemana, resiko tak harus jadi momok yang menakutkan.
Mereka, orang-orang hebat, selalu berusaha menjadi pioner (assabiqunal awwalun) atas berbagai peluang di hadapan. Tetapi, mereka memilih menjadi pioner yang punya perhitungan yang memadai. Sehingga keberanian mereka bukan ke-nekad-an yang dipaksakan. Mereka tidak takut menghadapi resiko karena mereka punya ilmu, wawasan, dan keterampilan, lalu mereka susun rencana, dan mereka punya komitmen pelaksanaan atasnya.
Dengan begitu, tidak ada istilah takut dalam kamus orang-orang hebat. Memang, adakalanya mereka harus hati-hati memutuskan. Ada masanya mereka harus memperhitungkan waktu, situasi, dan kondisi. Namun, ketika keputusan telah diambil, tak pantang menyerah pada masalah, tak pantang mundur apalagi kabur menghadapi masalah. Mereka selalu punya ruang yang luas untuk mengevaluasi, merencanakan kembali, dan memulai investasi lagi (baca: usaha perbaikan) atas pilihan peluang yang diambil.
Orang hebat melihat dan menjalani proses sebagai pembelajaran. Sehingga, jika kegagalan sekalipun yang datang, difahaminya sebagai jalan panjangnya kesuksesan. Apa yang muncul kemudian adalah pikiran-pikiran positif dan solutif atas permasalahan. Di sanalah letak keberanian orang hebat. Berani mengambil resiko karena punya rencana. Berani mengambil resiko karena punya cara pandang pembelajar. Mereka tak pernah berhenti berproses (on becoming) menjadi lebih baik sebelum akhirya menjadi yang terbaik.
Orang sering takut mengambil peluang karena takut resikonya. Pun setelah peluang diambil, banyak orang gagal karena tidak bisa mengatasi resiko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keberhasilan sejatinya adalah resultan dari usaha seseorang dalam menangkap peluang dan mengatasi resikonya. Orang yang ingin berhasil - dalam hal apapun, dengan demikian, harus punya keberanian untuk menangkap peluang dan mengambil resikonya sekaligus. Menangkap peluang berarti menjadi orang-orang pertama (pioner) yang take action atas sesuatu hal. Sementara mengambil resiko diartikan sebagai tidak takut pada resiko serta punya bekal ilmu dan rencana untuk mengatasi resiko tersebut. Keberaniaan terakhir akan kita jadikan ciri kesekian dari orang hebat.
Keberaniaan mengambil resiko dalam pengertian di atas menjadikan orang tidak asal ambil resiko atau asal ambil peluang, tapi benar-benar keberaniaan yang didasarkan pada perhitungan yang memadai, bukan ke-nekad-an. Banyak orang gagal karena hal terakhir. Maunya dibilang berani, tapi sesungguhnya nekad. Banyak orang maunya berwirausaha, tapi malah jadi pengangguran. Banyak orang ingin rumah tangganya bahagia, tapi malah sebaliknya, dst. Apa yang dimaksud dengan perhitungan yang memadai sesungguhnya ada pada aspek perencanaan setiap orang. Sekali lagi, ini menegaskan betapa pentingnya perencanaan dan komitmen pelaksanaannya. Orang hebat punya itu. Punya rencana dan punya komitmen pelaksanaan. Sehingga ketika masanya tiba, peluang tak akan lari kemana, resiko tak harus jadi momok yang menakutkan.
Mereka, orang-orang hebat, selalu berusaha menjadi pioner (assabiqunal awwalun) atas berbagai peluang di hadapan. Tetapi, mereka memilih menjadi pioner yang punya perhitungan yang memadai. Sehingga keberanian mereka bukan ke-nekad-an yang dipaksakan. Mereka tidak takut menghadapi resiko karena mereka punya ilmu, wawasan, dan keterampilan, lalu mereka susun rencana, dan mereka punya komitmen pelaksanaan atasnya.
Dengan begitu, tidak ada istilah takut dalam kamus orang-orang hebat. Memang, adakalanya mereka harus hati-hati memutuskan. Ada masanya mereka harus memperhitungkan waktu, situasi, dan kondisi. Namun, ketika keputusan telah diambil, tak pantang menyerah pada masalah, tak pantang mundur apalagi kabur menghadapi masalah. Mereka selalu punya ruang yang luas untuk mengevaluasi, merencanakan kembali, dan memulai investasi lagi (baca: usaha perbaikan) atas pilihan peluang yang diambil.
Orang hebat melihat dan menjalani proses sebagai pembelajaran. Sehingga, jika kegagalan sekalipun yang datang, difahaminya sebagai jalan panjangnya kesuksesan. Apa yang muncul kemudian adalah pikiran-pikiran positif dan solutif atas permasalahan. Di sanalah letak keberanian orang hebat. Berani mengambil resiko karena punya rencana. Berani mengambil resiko karena punya cara pandang pembelajar. Mereka tak pernah berhenti berproses (on becoming) menjadi lebih baik sebelum akhirya menjadi yang terbaik.
Anonym.2011.Blogspot.Orang Hebat Mengambil Resiko. http://bilbulsama.blogspot.co.id/2011/03/orang-hebat-berani-mengambil-resiko.html
Fasyakayana,Imam.2012.Wordpress.Megambil Resiko. https://catatanmanajer.wordpress.com/2012/05/08/mengambil-resiko/
Langganan:
Postingan (Atom)




