Tampilkan postingan dengan label Tugas Karakter 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Karakter 10. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 Januari 2017
Mari Kita Mengendalikan Diri
Rabu, 04 Januari 2017
Harus Bisa Mengendalikan Diri
Dalam keadaan tertentu kita kadang sulit untuk mengendalikan
diri sendiri di mana banyak hal yang sangat membuat kita ingin marah dan
berontak terhadap sesuatu hal yang membuat kita ingin marah. Semua itu timbul
karena emosi yaitu perasaan yang timbul dalam diri kita sendiri secara alami
itu bisa berupa amarah, sedih, senang, benci, cinta, bosan, dan sebagainya yang
merupakan efek atau respon yang terjadi dari sesuatu yang kita alami. Berbicara
soal emosi maka kita harus tahu kecerdasan emosi itu sendiri dimana merupakan
kemampuan manusia untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadap frustasi,
mengendalikan dorongan hati (kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain),
mengatur suasana hati dan mampu mengendalikan stres dan keadaan yang melanda
kita.
Kecerdasan emosional juga mencakup kesadaran diri sendiri
dan mengendalikan dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri dan
kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan kecakapan sosial. Ketrampilan
yang berkaitan dengan kecerdasan emosi antara lain misalnya kemampuan untuk
memahami orang lain, kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dengan orang
lain, kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, membentuk citra diri positif,
memotivasi dan memberi inspirasi dan sebagainya.
Berita baiknya, Anda bisa mengendalikan emosi diri sendiri.
Tujuh cara di bawah ini akan membantu Anda melakukannya.
1. Menenangkan diri
Dari perspektif manajemen marah, marah bisa dilihat sebagai
sebuah siklus agresi (aggression cycle) yang terdiri dari eskalasi, eksplosi,
dan pasca-eksplosi. Oleh karena itu, saat Anda marah, tenangkan diri sehingga
siklus agresi Anda berantakan. Dengan pikiran tenang, Anda bisa berpikir logis
dan mencari solusi.
Untuk menenangkan diri, Anda bisa melakukan cara-cara
berikut:
Tarik napas dalam-dalam – Saat menarik napas, fokuskan
pikiran Anda pada napas yang masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah.
Lakukan berulang sehingga Anda bisa menurunkan emosi sedikit demi sedikit.
Hitung 1 s.d 10 – Dalam hati, hitung dari satu sampai
sepuluh secara perlahan untuk meredakan emosi. Jika perlu, lakukan beberapa
kali.
Alihkan perhatian – Anda bisa mengalihkan perhatian pada
hal-hal lain seperti menonton TV atau pergi ke toilet.
2. Berempati
Pemicu marah terkadang hal sepele. Untuk menghindari masalah
sepele ini menjadi besar, berempatilah. Empati adalah keadaan mental yang
membuat Anda merasakan keadaan atau pikiran orang lain.
Kembali kepada contoh pengendara yang menyalip Anda,
berempatilah kepada dia. Mungkin dia sedang buru-buru atau memang karakternya
sudah begitu. Dengan berempati, Anda tidak akan mengeluarkan sumpah serapah dan
nama hewan.
Contoh lain, jika isteri Anda ngomel-ngomel, berempatilah
kepada dia. Mungkin saja dia capai memasak, membereskan rumah, dan mengurus
anak sehingga kondisi mentalnya tidak stabil.
Anda mungkin akan sedikit susah berempati ini karena merasa
diri lebih superior. Namun, kuatkanlah melakukannya karena memang tujuan Anda
adalah meredam marah.
3. Mengingat dampak
negatif yang akan terjadi
Emosi yang meluap-luap biasanya membuat yang bersangkutan
gelap mata. Jika sudah demikian, dia akan memukul, berteriak, memaki, atau
merusak barang-barang yang ada. Nah, untuk menghindari keadaan ini, ingatlah
dampak negatif yang akan terjadi jika Anda tidak bisa melawan emosi.
Sebagai contoh, Anda bertengkar hebat dengan isteri Anda.
Saat amarah akan meledak (misalnya Anda akan memukul), ingat dampak negatif
yang akan terjadi seperti isteri Anda akan lebam mukanya, mertua membenci Anda,
atau Anda dilaporkan isteri Anda ke polisi karena melakukan kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT).
4. Menganggap hari
terakhir Anda hidup
Jika Anda masih sulit mengontrol emosi, anggap hari saat
Anda marah adalah hari terakhir Anda hidup. Dengan menganggap seperti itu,
emosi Anda akan mereda dengan sendirinya karena Anda ingin mati dengan membawa
kebaikan, bukan membawa emosi.
5. Memaafkan dan
melupakan
Anda sering mengungkit-ungkit masalah lama sehingga emosi
Anda meluap lagi? Mulai sekarang, maafkan mereka yang telah memberi Anda
masalah (misalnya menyakiti, membohongi, merendahkan, atau menjelekkan Anda)
dan lupakan.
Cara ini adalah cara favorit saya dalam menghilangkan emosi.
Dengan memaafkan dan melupakan, saya bisa berfokus pada hal-hal penting yang
berdampak positif pada kehidupan saya. Selain itu, saya juga terhindar dari
balas dendam.
6. Membaca ta’awudz
Jika Anda beragama Islam, baca ta’awudz (a-‘udzu billahi
minas syaithanir rajiim) untuk menahan diri ketika Anda sedang marah. Dengan
membaca ta’awudz tersebut, Anda memohon perlindungan kepada Allah SWT dari
gangguan setan yang merupakan sumber amarah.
7. Berolahraga
Cara lain yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi emosi
adalah berolahraga seperti berjalan kaki, bermain sepak bola, lari, atau
berenang. Apa pun jenisnya, olahraga bisa menstimulasi zat-zat kimia dalam otak
yang membuat Anda lebih rileks dan bahagia. Selain itu, olahraga akan menguras
energi Anda secara positif sehingga melenturkan ketegangan syaraf Anda.
Berikut adalah Cerita Pendek tentang Mengendalikan diri
Pernah di kisahkan suatu hari setelah usai mengikuti
pertempuran yang hebat, Jengis Khan beristirahat sejenak melepas lelah di tepi
air terjun kecil ditemani burung rajawali yang selalu mengikutinya. Sengaja ia
mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari serdadunya agar ia dapat
beristirahat dengan tenang tanpa diganggu. Beberapa saat kemudian ia mulai
merasa haus dan segera membawa wadah yang terbuat dari tanah liat (kalau
sekarang mungkin semacam mangkok atau gelas kali ya) untuk menampung air dari
air terjun dekat tempatnya berteduh.
Ketika ia hendak menampung air dengan mangkuknya itu
tiba-tiba saja burung rajawali peliharaannya itu menyambar mangkuk tersebut
hingga jatuh. Kaget Jengis Khan dibuatnya, karena tak pernah hal ini dilakukan
sebelumnya oleh rajawalinya yang setia.
“hmm.. kayaknya dia hanya ingin bercanda,” pikirnya dalam
hati
Kembali ia mengambil mangkuk yang terjatuh itu dan mencoba
kembali menampung air dengannya. Kemudian untuk kedua kalinya sang burung
rajawali peliharaannya menjatuhkan mangkuk yang dipegang sang panglima. Kali
ini sang rajawali menghentaknya dengan sangat keras sehingga mangkuk tersebut
terpental cukup jauh. Jengis Khan menjadi jengkel karenanya, kalau sekali
mungkin ini bisa dianggap bercanda, namun untuk yang kedua kalinya maka ini
seperti pelecehan baginya. Dengan murka dirinya mengancam akan menyembelih
burung rajawalinya jika hal itu dilakukannya lagi.
Lalu Jengis Khan memungut kembali mangkuk yang terbuat dari
tanah liat itu untuk kembali mencoba menampung air dengannya. Baru saja
ditengadahkan mangkuknya di bawah kucuran air terjun, sang rajawali tanpa
terduga kembali menyambar mangkuknya dengan sangat keras hingga terpental jauh
dan terpecah.
Tak lagi menahan kesabarannya, diayunkan pedang perangnya ke
arah burung rajawalinya hingga putuslah leher sang rajawali dan terlepaslah
jiwa dari raganya. Puas melampiaskan kemarahannya, Jengis Khan mencoba menaiki
ujung tebing yang merupakan tempat sumber mata air itu berada untuk meminumnya
dan sekaligus melihat-lihat keadaan sekitar. Begitu ia sampai di atas, betapa
kagetnya ia melihat ada bangkai binatang yang membusuk tergenang tepat di
sumber mata air tersebut, seketika ia menyadari bahwa sang rajawali sejak tadi
sebenarnya hendak memberitahukan kepadanya bahwa air yang ingin diminumnya
sudahlah tercemar bangkai yang membusuk dan bukan tak mungkin akan bisa
membunuhnya.
Dengan sedih ia menatap ke arah mayat burung rajawali yang
baru saja ditebasnya. Betapa sedih dan menyesalnya ia atas perbuatannya.
Dihampirinya jasad sang rajawali, dilepasnya baju perang yang dipakainya untuk
digunakan membungkus jasad sang rajawali dan kemudia dimakamkan dengan
terhormat menggunakan upacara kemiliteran.
Sebagai panglima perang, Jengis Khan begitu hebat nan
perkasa mengalahkan musuh-musuhnya, namanya tersohor di seluruh dunia. Bahkan
hingga kini sejarah kehebatannya dan lekang di makan usia. Namun kehebatannya
menaklukkan dan menguasai orang lain bukanlah jaminan baginya untuk dapat
mengalahkan dan menguasai dirinya. Ia menyadari bahwa sangatlah penting baginya
dan seluruh pasukannya untuk dapat menguasai dirinya sebelum menguasai orang
lain.
Kesimpulan
Melalui kisah tersebut kita belajar tentang pentingnya
mengendalikan diri. Karena kebijaksanaan seseorang amatlah terlihat dari
sepandai apa ia mampu mengendalikan dirinya. Pengendalian diri merupakan salah
satu aspek terpenting dalam hidup, karena musuh terbesar bagi manusia (selain
syaitan laknatullah ‘alaih) bukanlah orang lain atau sesuatu di luar dirinya,
melainkan musuh terbesar bagi manusia adalah apa yang terdapat dalam dirinya,
dalam pikirannya, dalam hatinya.
Mengendalikan diri berarti mengendalikan hati dari berbagai
noda hitam yang menutupi, mengendalikan pikir dari berbagai macam prasangka
negatif yang menghampiri, juga mengendalikan raga dari melakukan segala
perbuatan yang berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.
Daftar Pustaka:
Komar, A. 2014. Belajar Dari Jengis Khan (Mengendalikan
diri). http://www.kompasiana.com/akayaka/belajar-dari-jengis-khan-pengendalian-diri_54f845dca33311641e8b5641.
(Diakses 23-11-2016)
Anonim. 2011. Mengendalikan Diri Sendiri. http://superkomplit.blogspot.co.id/2011/03/mengendalikan-diri-sendiri.html.
(Diakses 23-11-2016)
Yudiono, H. 2015. 7 Cara Efektif Mengendalikan Diri. http://www.tipspengembangandiri.com/cara-mengendalikan-emosi/.
(Diakses 23-11-2016)
Kamis, 22 Desember 2016
Mengenedalikan Diri
Dalam keadaan tertentu kita kadang sulit untuk mengendalikan diri sendiri
di mana banyak hal yang sangat membuat kita ingin marah dan berontak terhadap sesuatu hal
yang membuat kitaingin marah.
PENGENDALIAN DIRI
Berbagai permasalahan
yang sering muncul dalam kehidupan ini banyak diakibatkan oleh ketidakmampuan
seseorang dalam mengendalikan diri. Tawuran antar pelajar, mengambil hak milik
orang lain (mencuri, merampok, korupsi), vandalism, penyalahgunaan
obat terlarang dan free sex merupakan contoh perilaku yang timbul karena
ketidakmampuan dalam mengendalikan diri (self control).
Perkembangan
self control pada dasarnya sejalan dengan bertambahnya usia seseorang. Semakin
dewasa diharapkan mempunyai self control yang lebih baik dibanding saat remaja
dan anak-anak. Namun demikian beberapa kasus menunjukkan hal yang sebaliknya,
dimana beberapa permasalahan tersebut juga dilakukan oleh orang yang sudah
dewasa. Mahasiswa yang telah beranjak dewasa (bertambahnya usia dan ilmu)
tentunya diharapkan oleh masyarakat mempunyai self control yang lebih tinggi
dibanding anak-anak SMA. Tentunya akan aneh jika bertambahnya usia tidak
diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri, bahkan berbuat sesuka hati
dengan membiarkan perilaku yang lebih mementingkan egosime tanpa menghiraukan
konsekuensi yang akan diperoleh.
Dalam pandangan Zakiyah Darajat bahwa orang yang sehat
mentalnya akan dapat menunda buat sementara pemuasan kebutuhannya itu atau ia
dapat mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang bisa menyebabkan hal-hal
yang merugikan. Dalam pengertian yang umum pengendalian diri lebih menekankan pada pilihan
tindakan yang akan memberikan manfaat dan keuntungan yang lebih luas, tidak
melakukan perbuatan yang akan merugikan dirinya di masa kini maupun masa yang
akan datang dengan cara menunda kepuasan sesaat.
Menurut kamus
psikologi (Chaplin, 2002), definisi kontrol diri atau self control adalah
kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan kemampuan
untuk menekan atau menghambat dorongan yang ada. Goldfried dan Merbaum,
mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing,
mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu kearah
konsekuensi positif.
Kontrol
diri merupakan satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu
selama proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi yang
terdapat dilingkungan yang berada disekitarnya, para ahli berpendapat bahwa
kontrol diri dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat preventif
selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negative dari stressor-stresor
lingkungan. Disamping itu kontrol diri memiliki makna sebagai suatu kecakapan
individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan
untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan
kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi (Calhoun dan
Acocela, 1990).
Mengapa penting
memiliki self control ? Pertama, kontrol diri berperan
penting dalam hubungan seseorang dengan orang lain (interaksi
social). Hal ini dikarenakan kita senantiasa hidup dalam kelompok atau
masyarakat dan tidakbisa hidup sendirian. Seluruh kebutuhan hidup kita
(fisiologis) terpenuhi dari bantuan orang lain, begitu pula kebutuhan
psikologis dan social kita. Oleh karena itu agar kita dapat memenuhi seluruh
kebutuhan hidup ini dibutuhkan kerjasama dengan orang lain dan kerjasama dapat
berlangsung dengan baik jika kita mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang
merugikan orang lain. Kedua, Kontrol diri memiliki peran dalam
menunjukkan siapa diri kita (nilai diri). Seringkali seseorang memberikan
penilaian dari apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dan kontrol
diri merupakan salah satu aspek penting dalam mengelola dan mengendalikan
perilaku kita. Kontrol diri menjadi aspek yang penting dalam aktualisasi pola
pikir, rasa dan perilaku kita dalam menghadapai setiap situasi. Seseorang yang
dapat mengendalikan diri dari hal-hal yang negatif tentunya akan memperoleh
penilaian yang positif dari orang lain (lingkungan sosial), begitu pula
sebaliknya. Ketiga, kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan
pribadi. Pengendalian diri dipercaya dapat membantu seseorang dalam mencapai
tujuan hidup seseorang. Hal ini dikarenakan bahwa seseorang yang mampu menahan
diri dari perbuatan yang dapat merugikan diri atau orang lain akan lebih mudah
focus terhadap tujuan-tujuan yang ingin dicapai, mampu memilih tindakan yang
memberi manfaat, menunjukkan kematangan emosi dan tidak mudah terpengaruh
terhadap kebutuhan atau perbuatan yang menimbulkan kesenangan sesaat. Bila hal
ini terjadi niscaya seseorang akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.
Dengan mengembangkan
kemampuan mengendalikan diri sebaik-baiknya, maka kita akan dapat menjadi
pribadi yang efektif, hidup lebih konstruktif, dapat menyusun tindakan yang
berdimensi jangka panjang, mampu menerima diri sendiri dan diterima oleh
masyarakat luas. Kemampuan mengendalikan diri menjadi sangat berarti untuk
meminimalkan perilaku buruk yang selama ini banyak kita jumpai dalam kehidupan
di masyarakat juga dalam tatanan kenegaraan karena banyak peristiwa yang
terjadi karena ketidakmampuan mengendalikan diri.
Pada
dasarnya sumber terjadinya self control dalam diri seseorang ada 2 (dua) yaitu
sumber internal (dalam diri) dan eksternal (di luar diri). Apabila seseorang
dalam berperilaku cenderung mengatur perilakunya sendiri dan memiliki standar
khusus terhadap perilaku yang dipilih, memberikan ganjaran bila dapat mencapai
tujuan dan memberikan hukuman sendiri apabila melakukan kesalahan, maka hal ini
menunjukan bahwa self controlnya bersumber dari diri sendiri (internal).
Sedangkan apabila individu menjadikan orang lain atau lingkungan sebagai
standart perilaku atau penyebab terjadinya perilaku dan ganjaran atau hukuman
juga diterima dari orang lain (lingkungan), maka ini menunjukkan bahwa self
control yang dimiliki bersumber dari luar diri (eksternal)
A. Jenis-Jenis Kontrol Diri
Kontrol diri yang
digunakan seseorang dalam menghadapi situasi tertentu, meliputi :
a. Behavioral control, kemampuan untuk mempengaruhi atau memodifikasi suatu
keadaan yang tidak menyenangkan. Adapun cara yang sering digunakan antara lain
dengan mencegah atau menjauhi situasi tersebut, memilih waktu yang tepat untuk
memberikan reaksi atau membatasi intensitas munculnya situasi tersebut
b. Cognitive control, kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan
cara menginterpretasi, menilai dan menggabungkan suatu kejadian dalam sutu
kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan.
Dengan informasi yang dimiliki oleh individu terhadap keadaan yang tidak
menyenangkan, individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan dengan
cara memperhatikan segi-segi positif secara subyektif atau memfokuskan pada
pemikiran yang menyenangkan atau netral.
c. Decision control, kemampuan seseorang untuk memilih suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu
yang diyakini atau disetujuinya. Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan
berfungsi baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau kemungkinan untuk
memilih berbagai kemungkinan (alternative) tindakan
d. Informational control, Kesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai
kejadian yang menekan, kapan akan terjadi, mengapa terjadi dan apa
konsekuensinya. Kontrol informasi ini dapat membantu meningkatkan kemampuan
seseorang dalam memprediksi dan mempersiapkan yang akan terjadi dan mengurangi
ketakutan seseorang dalam menghadapi sesuatu yang tidak diketahui, sehingga
dapat mengurangi stress.
e. Retrospective control, Kemampuan untuk menyinggung tentang kepercayaan
mengenai apa atau siapa yang menyebabkan sebuah peristiwa yang menekan setelah hal
tersebut terjadi. Individu berusaha mencari makna dari setiap peristiwa yang
terjadi dalam kehidupan. Hal ini bukan berarti individu mengontrol setiap
peristiwa yang terjadi, namun individu berusaha memodifikasi pengalaman stress
tersebut untuk mengurangi kecemasan.
B. Ciri-ciri control diri
Ciri-ciri seseorang
mempunyai kontrol diri antara lain :
a. Kemampuan untuk mengontrol perilaku yang ditandai dengan kemampuan
menghadapi situasi yang tidak diinginkan dengan cara mencegah atau menjauhi situasi
tersebut, mampu mengatasi frustasi dan ledakan emosi.
b. Kemampuan menunda kepuasan dengan segera untuk mengatur perilaku agar dapat
mencapai sesuatu yang lebih berharga atau lebih diterima oleh masyarakat
c. Kemampuan mengantisipasi peristiwa dengan mengantisipasi keadaan melalui
pertimbangan secara objektif.
d. Kemampuan menafsirkan peristiwa dengan melakukan penilaian dan penafsiran
suatu keadaan dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif
e. Kemampuan mengontrol keputusan dengan cara memilih suatu tindakan
berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya.
Daftar Pustaka: http://garasikeabadian.blogspot.co.id
/ http://yohakimn.blogspot.co.id/
Rabu, 21 Desember 2016
Mengendalikan Diri Sendiri
Mengendalikan diri
Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.
Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.
Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.
Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
لا تغضب ولك الجنة
“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)
Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi.
Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.
Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:
أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM
Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.
Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ
Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)
Kedua, DIAM dan jaga lisan
Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengingatkan,
إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ
Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat.(HR. Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.
Ketiga, mengambil posisi lebih rendah
Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.
Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,
“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.
Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur.
Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.
Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.
Mengapa duduk dan tidur?
Al-Khithabi menjelaskan,
القائم متهيئ للحركة والبطش، والقاعد دونه في هذا المعنى، والمضطجع ممنوع منهما، فيشبه أن يكون النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما أمره بالقعود لئلا تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعدُ
Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)
Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ
“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.
Mula Ali Qori mengatakan,
وَهَذَا الثَّنَاءُ الْجَمِيلُ وَالْجَزَاءُ الْجَزِيلُ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَى مُجَرَّدِ كَظْمِ الْغَيْظِ فَكَيْفَ إِذَا انْضَمَّ الْعَفْوُ إِلَيْهِ أَوْ زَادَ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ
Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi. Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).
Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:
Hadis dari Ibnu Umar,
من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا
Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.
Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatabradhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.
‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”
Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,
‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’
Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).
Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.
Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz,A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..
وَقَالَ: له أحد الصحابة «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ» فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَب
“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).
Kelima, Segera berwudhu atau mandi
Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.
Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)
Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,
Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu Muslim-pun berkata kepada beliau,
‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik ibumu.’
Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,
‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis,
الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل
Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.
Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.
(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).
Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.
Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan).
Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan,
إن ثبت هذا الحديث فإنما الأمر به ندبا ليسكن الغضب ، ولا أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه
Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189).
Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan,
يشير هذا الحديث إلى حقيقة طبية معروفة ، فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن الانفعال ، كما يساعد على تخفيف حالة التوتر العضلي والعصبي ، ولذلك كان الاستحمام يستخدم في الماضي في العلاج النفسي
Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.
(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)
اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah
[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]
Daftar Pustaka :
NurBaitts,ammi.2013. 5 cara mengendalikan emosi dalam islam. [Online]
https://googleweblight.com/?lite_url=https://konsultasisyariah.com/18243-cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam.html&ei=W4A5wUX2&lc=id-ID&s=1&m=331&host=www.google.co.id&ts=1482332477&sig=AF9NedmETOKmxYv8UxIZdQi-McuWAfJPbQ
Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.
Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.
Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
لا تغضب ولك الجنة
“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)
Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi.
Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.
Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:
أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM
Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.
Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ
Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)
Kedua, DIAM dan jaga lisan
Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengingatkan,
إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ
Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat.(HR. Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.
Ketiga, mengambil posisi lebih rendah
Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.
Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,
“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.
Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur.
Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.
Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.
Mengapa duduk dan tidur?
Al-Khithabi menjelaskan,
القائم متهيئ للحركة والبطش، والقاعد دونه في هذا المعنى، والمضطجع ممنوع منهما، فيشبه أن يكون النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما أمره بالقعود لئلا تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعدُ
Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)
Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ
“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.
Mula Ali Qori mengatakan,
وَهَذَا الثَّنَاءُ الْجَمِيلُ وَالْجَزَاءُ الْجَزِيلُ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَى مُجَرَّدِ كَظْمِ الْغَيْظِ فَكَيْفَ إِذَا انْضَمَّ الْعَفْوُ إِلَيْهِ أَوْ زَادَ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ
Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi. Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).
Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:
Hadis dari Ibnu Umar,
من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا
Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.
Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatabradhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.
‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”
Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,
‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’
Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).
Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.
Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz,A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..
وَقَالَ: له أحد الصحابة «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ» فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَب
“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).
Kelima, Segera berwudhu atau mandi
Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.
Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)
Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,
Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu Muslim-pun berkata kepada beliau,
‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik ibumu.’
Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,
‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis,
الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل
Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.
Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.
(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).
Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.
Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan).
Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan,
إن ثبت هذا الحديث فإنما الأمر به ندبا ليسكن الغضب ، ولا أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه
Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189).
Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan,
يشير هذا الحديث إلى حقيقة طبية معروفة ، فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن الانفعال ، كما يساعد على تخفيف حالة التوتر العضلي والعصبي ، ولذلك كان الاستحمام يستخدم في الماضي في العلاج النفسي
Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.
(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)
اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah
[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]
Daftar Pustaka :
NurBaitts,ammi.2013. 5 cara mengendalikan emosi dalam islam. [Online]
https://googleweblight.com/?lite_url=https://konsultasisyariah.com/18243-cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam.html&ei=W4A5wUX2&lc=id-ID&s=1&m=331&host=www.google.co.id&ts=1482332477&sig=AF9NedmETOKmxYv8UxIZdQi-McuWAfJPbQ
Mengendalikan diri
MENGENDALIKAN DIRI
Dalam keadaan tertentu kita kadang sulit untuk mengendalikan diri sendiri
di mana banyak hal yang sangat membuat kita ingin marah dan berontak terhadap
sesuatu hal yang membuat kita ingin marah. Semua itu timbul karena emosi yaitu
perasaan yang timbul dalam diri kita sendiri secara alami itu bisa berupa
amarah, sedih, senang, benci, cinta, bosan, dan sebagainya yang merupakan efek
atau respon yang terjadi dari sesuatu yang kita alami. Berbicara soal emosi
maka kita harus tahu kecerdasan emosi itu sendiri dimana merupakan kemampuan
manusia untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadap frustasi,
mengendalikan dorongan hati (kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain),
mengatur suasana hati dan mampu mengendalikan stres dan keadaan yang melanda kita.
Kecerdasan
emosional juga mencakup kesadaran diri sendiri dan mengendalikan dorongan hati,
ketekunan, semangat dan motivasi diri dan kendali dorongan hati, ketekunan,
semangat dan kecakapan sosial. Ketrampilan yang berkaitan dengan kecerdasan
emosi antara lain misalnya kemampuan untuk memahami orang lain, kepemimpinan,
kemampuan membina hubungan dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi,
kerjasama tim, membentuk citra diri positif, memotivasi dan memberi inspirasi
dan sebagainya.
Berita
baiknya, Anda bisa mengendalikan emosi diri sendiri. Tujuh cara di bawah ini
akan membantu Anda melakukannya.
1.
Menenangkan diri
Dari
perspektif manajemen marah, marah bisa dilihat sebagai sebuah siklus agresi
(aggression cycle) yang terdiri dari eskalasi, eksplosi, dan pasca-eksplosi.
Oleh karena itu, saat Anda marah, tenangkan diri sehingga siklus agresi Anda
berantakan. Dengan pikiran tenang, Anda bisa berpikir logis dan mencari solusi.
Untuk
menenangkan diri, Anda bisa melakukan cara-cara berikut:
Tarik napas
dalam-dalam – Saat menarik napas, fokuskan pikiran Anda pada napas yang masuk
ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah. Lakukan berulang sehingga Anda
bisa menurunkan emosi sedikit demi sedikit.
Hitung 1 s.d
10 – Dalam hati, hitung dari satu sampai sepuluh secara perlahan untuk
meredakan emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali.
Alihkan
perhatian – Anda bisa mengalihkan perhatian pada hal-hal lain seperti menonton
TV atau pergi ke toilet.
2. Berempati
Pemicu marah
terkadang hal sepele. Untuk menghindari masalah sepele ini menjadi besar,
berempatilah. Empati adalah keadaan mental yang membuat Anda merasakan keadaan
atau pikiran orang lain.
Kembali
kepada contoh pengendara yang menyalip Anda, berempatilah kepada dia. Mungkin
dia sedang buru-buru atau memang karakternya sudah begitu. Dengan berempati,
Anda tidak akan mengeluarkan sumpah serapah dan nama hewan.
Contoh lain,
jika isteri Anda ngomel-ngomel, berempatilah kepada dia. Mungkin saja dia capai
memasak, membereskan rumah, dan mengurus anak sehingga kondisi mentalnya tidak
stabil.
Anda mungkin
akan sedikit susah berempati ini karena merasa diri lebih superior. Namun,
kuatkanlah melakukannya karena memang tujuan Anda adalah meredam marah.
3. Mengingat
dampak negatif yang akan terjadi
Emosi yang
meluap-luap biasanya membuat yang bersangkutan gelap mata. Jika sudah demikian,
dia akan memukul, berteriak, memaki, atau merusak barang-barang yang ada. Nah,
untuk menghindari keadaan ini, ingatlah dampak negatif yang akan terjadi jika
Anda tidak bisa melawan emosi.
Sebagai
contoh, Anda bertengkar hebat dengan isteri Anda. Saat amarah akan meledak
(misalnya Anda akan memukul), ingat dampak negatif yang akan terjadi seperti
isteri Anda akan lebam mukanya, mertua membenci Anda, atau Anda dilaporkan
isteri Anda ke polisi karena melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
4.
Menganggap hari terakhir Anda hidup
Jika Anda
masih sulit mengontrol emosi, anggap hari saat Anda marah adalah hari terakhir
Anda hidup. Dengan menganggap seperti itu, emosi Anda akan mereda dengan
sendirinya karena Anda ingin mati dengan membawa kebaikan, bukan membawa emosi.
5. Memaafkan
dan melupakan
Anda sering
mengungkit-ungkit masalah lama sehingga emosi Anda meluap lagi? Mulai sekarang,
maafkan mereka yang telah memberi Anda masalah (misalnya menyakiti, membohongi,
merendahkan, atau menjelekkan Anda) dan lupakan.
Cara ini
adalah cara favorit saya dalam menghilangkan emosi. Dengan memaafkan dan
melupakan, saya bisa berfokus pada hal-hal penting yang berdampak positif pada
kehidupan saya. Selain itu, saya juga terhindar dari balas dendam.
6. Membaca
ta’awudz
Jika Anda
beragama Islam, baca ta’awudz (a-‘udzu billahi minas syaithanir rajiim) untuk
menahan diri ketika Anda sedang marah. Dengan membaca ta’awudz tersebut, Anda
memohon perlindungan kepada Allah SWT dari gangguan setan yang merupakan sumber
amarah.
7.
Berolahraga
Cara lain
yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi emosi adalah berolahraga seperti
berjalan kaki, bermain sepak bola, lari, atau berenang. Apa pun jenisnya,
olahraga bisa menstimulasi zat-zat kimia dalam otak yang membuat Anda lebih
rileks dan bahagia. Selain itu, olahraga akan menguras energi Anda secara
positif sehingga melenturkan ketegangan syaraf Anda.
Berikut
adalah Cerita Pendek tentang Mengendalikan diri
Pernah di
kisahkan suatu hari setelah usai mengikuti pertempuran yang hebat, Jengis Khan
beristirahat sejenak melepas lelah di tepi air terjun kecil ditemani burung
rajawali yang selalu mengikutinya. Sengaja ia mencari tempat yang agak sepi dan
jauh dari serdadunya agar ia dapat beristirahat dengan tenang tanpa diganggu.
Beberapa saat kemudian ia mulai merasa haus dan segera membawa wadah yang
terbuat dari tanah liat (kalau sekarang mungkin semacam mangkok atau gelas kali
ya) untuk menampung air dari air terjun dekat tempatnya berteduh.
Ketika ia
hendak menampung air dengan mangkuknya itu tiba-tiba saja burung rajawali
peliharaannya itu menyambar mangkuk tersebut hingga jatuh. Kaget Jengis Khan
dibuatnya, karena tak pernah hal ini dilakukan sebelumnya oleh rajawalinya yang
setia.
“hmm..
kayaknya dia hanya ingin bercanda,” pikirnya dalam hati
Kembali ia
mengambil mangkuk yang terjatuh itu dan mencoba kembali menampung air
dengannya. Kemudian untuk kedua kalinya sang burung rajawali peliharaannya
menjatuhkan mangkuk yang dipegang sang panglima. Kali ini sang rajawali
menghentaknya dengan sangat keras sehingga mangkuk tersebut terpental cukup
jauh. Jengis Khan menjadi jengkel karenanya, kalau sekali mungkin ini bisa
dianggap bercanda, namun untuk yang kedua kalinya maka ini seperti pelecehan
baginya. Dengan murka dirinya mengancam akan menyembelih burung rajawalinya
jika hal itu dilakukannya lagi.
Lalu Jengis
Khan memungut kembali mangkuk yang terbuat dari tanah liat itu untuk kembali
mencoba menampung air dengannya. Baru saja ditengadahkan mangkuknya di bawah
kucuran air terjun, sang rajawali tanpa terduga kembali menyambar mangkuknya
dengan sangat keras hingga terpental jauh dan terpecah.
Tak lagi
menahan kesabarannya, diayunkan pedang perangnya ke arah burung rajawalinya
hingga putuslah leher sang rajawali dan terlepaslah jiwa dari raganya. Puas
melampiaskan kemarahannya, Jengis Khan mencoba menaiki ujung tebing yang
merupakan tempat sumber mata air itu berada untuk meminumnya dan sekaligus
melihat-lihat keadaan sekitar. Begitu ia sampai di atas, betapa kagetnya ia
melihat ada bangkai binatang yang membusuk tergenang tepat di sumber mata air
tersebut, seketika ia menyadari bahwa sang rajawali sejak tadi sebenarnya
hendak memberitahukan kepadanya bahwa air yang ingin diminumnya sudahlah
tercemar bangkai yang membusuk dan bukan tak mungkin akan bisa membunuhnya.
Dengan sedih
ia menatap ke arah mayat burung rajawali yang baru saja ditebasnya. Betapa
sedih dan menyesalnya ia atas perbuatannya. Dihampirinya jasad sang rajawali,
dilepasnya baju perang yang dipakainya untuk digunakan membungkus jasad sang
rajawali dan kemudia dimakamkan dengan terhormat menggunakan upacara
kemiliteran.
Sebagai
panglima perang, Jengis Khan begitu hebat nan perkasa mengalahkan
musuh-musuhnya, namanya tersohor di seluruh dunia. Bahkan hingga kini sejarah
kehebatannya dan lekang di makan usia. Namun kehebatannya menaklukkan dan
menguasai orang lain bukanlah jaminan baginya untuk dapat mengalahkan dan
menguasai dirinya. Ia menyadari bahwa sangatlah penting baginya dan seluruh
pasukannya untuk dapat menguasai dirinya sebelum menguasai orang lain.
Kesimpulan
Melalui
kisah tersebut kita belajar tentang pentingnya mengendalikan diri. Karena
kebijaksanaan seseorang amatlah terlihat dari sepandai apa ia mampu
mengendalikan dirinya. Pengendalian diri merupakan salah satu aspek terpenting
dalam hidup, karena musuh terbesar bagi manusia (selain syaitan laknatullah
‘alaih) bukanlah orang lain atau sesuatu di luar dirinya, melainkan musuh
terbesar bagi manusia adalah apa yang terdapat dalam dirinya, dalam pikirannya,
dalam hatinya.
Mengendalikan
diri berarti mengendalikan hati dari berbagai noda hitam yang menutupi,
mengendalikan pikir dari berbagai macam prasangka negatif yang menghampiri,
juga mengendalikan raga dari melakukan segala perbuatan yang berpotensi
merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.
Daftar
Pustaka:
Komar, A.
2014. Belajar Dari Jengis Khan (Mengendalikan diri). http://www.kompasiana.com/akayaka/belajar-dari-jengis-khan-pengendalian-diri_54f845dca33311641e8b5641. (Diakses 23-11-2016)
Anonim.
2011. Mengendalikan Diri Sendiri. http://superkomplit.blogspot.co.id/2011/03/mengendalikan-diri-sendiri.html. (Diakses 23-11-2016)
Yudiono, H.
2015. 7 Cara Efektif Mengendalikan Diri. http://www.tipspengembangandiri.com/cara-mengendalikan-emosi/. (Diakses 23-11-2016)
Langganan:
Postingan (Atom)


