Jumat, 18 Desember 2015

prinsip hidup



Prinsip hidup

Prinsip hidup adalah pedoman hidup atau bisa dibilang juga sebagai motto hidup. Prinsip hidup sangat penting dimiliki oleh semua orang karena orang yang memiliki prinsip artinya memiliki ketegasan sikap dalam hidupnya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki prinsip artinya hidupnya tanpa pedoman, tanpa sikap, tanpa pendirian, akan mudah terbawa arus dan akhirnya kehidupannya pun dapat dipastikan tidak akan mengalami kemajuan.
Sekadar contoh, mungkin ada orang yang memandang keamanan adalah di atas segala-galanya. Ia menolak datang ke semua tempat yang berbahaya, kendati bahaya itu bisa hadir di mana-mana. Ia tak mau mengambil risiko, berjudi dengan maut. Lebih baik di rumah saja di malam hari dan jangan ada tamu datang tanpa diundang. Lebih baik aman di rumah daripada menyesal kemudian. Hal serupa bisa diurai pada diri orang yang perhatian utama dan prinsip hidupnya adalah pekerjaan, tugas, pengakuan, uang, kemasyhuran, kebutuhan tertentu, keberhasilan, bersenang-senang, hubungan, diterima orang lain, kekuasaan dan lain-lain.
Memiliki sebuah prinsip hidup adalah masalah psikologi dan terkait pula dengan ekonomi. Prinsip hidup membimbing pemiliknya untuk lebih mudah menentukan pilihan. Orang yang berprinsip hidup kesenangan, misalnya, jika mendapatkan dua undangan pada saat yang sama, akan bertanya kepada dirinya sendiri: Di manakah aku akan lebih senang? Secara ekonomis, prinsip hidup telah menunjukkan pilihan dalam situasi yang sulit dan itu adalah efisiensi.

Socrates mengatakan, hidup yang tak pernah teruji bukanlah kehidupan yang bermakna. Cepat atau lambat kita akan selalu bertanya kepada diri sendiri: Aku hidup … untuk apa? Ini pertanyaan penting yang kadang-kadang bisa menyakitkan, namun tetap harus kita tanyakan dan jawab. Ketika menanyakannya kepada diri sendiri, umumnya urusan kenikmatan jasmani kitalah yang memengaruhi jawaban kita. Kepala kita menyimpan banyak sekali jawaban ideal dan mudah kita ucapkan semudah menekan tombol yang benar, tetapi benarkah jawaban-jawaban ideal itulah yang sedang kita perjuangkan dalam keseharian hidup kita?
Dag Hammarskjold suatu ketika mengatakan bahwa perjalanan terpanjang adalah perjalanan menyusuri kedalaman diri kita sendiri. Carl Jung, psikiatris pembaruan diri itu menulis dalam buku Memories, Dreams, Reflections: “Wherever there is a reaching down into innermost experience, into the nucleus of personality, most people are overcome by fright, and many run away … The risk of inner experience, the adventure of the spirit, is in any case, alien to most human beings.”
Jadi, untuk apa hidup ini sesungguhnya? Untuk menemukan jawabannya, barangkali ada baiknya bila kita meluangkan waktu sejenak untuk mengikuti anjuran John Powell, S.J. (1995): menuliskan hal-hal yang sudah menjadi pengalaman hidup kita. Tulislah daftar keberhasilan maupun kegagalan, airmata maupun canda tawa dalam hidup kita di masa lampau hingga yang baru saja terjadi, keterpurukan dan kepuasan yang pernah kita alami. Lengkapilah catatan itu dengan jenis kesenangan, kekuasaan atau kekuatan yang kita dambakan, jumlah uang yang kita inginkan menjadi kekayaan kita, tingkat kemasyhuran yang kita ingin raih, hubungan dengan sesama yang kita ingin jalin. Kemudian,  tanyakan kepada diri sendiri: hidup yang bagaimanakah yang kita inginkan? Di antara semua itu, manakah yang sungguh-sungguh menjadi harapan kita saat ini dan akan datang?
Cara lain, mungkin baik juga membayangkan suatu hari dalam perjalanan hidup yang kita anggap sempurna, atau membuat daftar sepuluh kegiatan yang paling kita sukai. Ketika merefleksikannya, kita mungkin menemukan satu atau dua kebutuhan dan atau hasrat kita dalam perspektif yang lebih jelas. Misalnya, jika kita menemukan bahwa dalam hari yang menurut kita sempurna atau di antara sepuluh kegiatan yang sangat kita sukai itu adalah ketika kita sendirian, mungkin kita telah menggali dan menemukan yang kita perlukan itu: di relung terdalam diri kita, terpendam hasrat untuk menyendiri atau bahkan penolakan terhadap suatu hubungan yang nyata ada di depan mata kita.

Sumber :
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar