Pengendalian diri diri merupakan
satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu selama
proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi yang terdapat
dilingkungan yang berada disekitarnya, para ahli berpendapat bahwa kontrol diri
dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat preventif selain dapat
mereduksi efek-efek psikologis yang negative dari stressor-stresor lingkungan.
Disamping itu kontrol diri memiliki makna sebagai suatu kecakapan individu
dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk
mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan
kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi (Calhoun dan
Acocela, 1990).
Pada
dasarnya sumber terjadinya self control dalam diri seseorang ada 2 (dua) yaitu
sumber internal (dalam diri) dan eksternal (di luar diri). Apabila seseorang
dalam berperilaku cenderung mengatur perilakunya sendiri dan memiliki standar
khusus terhadap perilaku yang dipilih, memberikan ganjaran bila dapat mencapai
tujuan dan memberikan hukuman sendiri apabila melakukan kesalahan, maka hal ini
menunjukan bahwa self controlnya bersumber dari diri sendiri (internal).
Sedangkan apabila individu menjadikan orang lain atau lingkungan sebagai
standart perilaku atau penyebab terjadinya perilaku dan ganjaran atau hukuman
juga diterima dari orang lain (lingkungan), maka ini menunjukkan bahwa self
control yang dimiliki bersumber dari luar diri (eksternal)
A. Jenis-Jenis Pengendalian
Diri
Kontrol diri yang digunakan seseorang dalam menghadapi
situasi tertentu, meliputi :
a. Behavioral
control, kemampuan untuk mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang
tidak menyenangkan. Adapun cara yang sering digunakan antara lain dengan
mencegah atau menjauhi situasi tersebut, memilih waktu yang tepat untuk
memberikan reaksi atau membatasi intensitas munculnya situasi tersebut
b. Cognitive control,
kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara
menginterpretasi, menilai dan menggabungkan suatu kejadian dalam sutu kerangka
kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Dengan
informasi yang dimiliki oleh individu terhadap keadaan yang tidak menyenangkan,
individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan dengan cara
memperhatikan segi-segi positif secara subyektif atau memfokuskan pada
pemikiran yang menyenangkan atau netral.
c. Decision control,
kemampuan seseorang untuk memilih suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang
diyakini atau disetujuinya. Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan
berfungsi baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau kemungkinan untuk
memilih berbagai kemungkinan (alternative) tindakan
d. Informational
control, Kesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai kejadian yang
menekan, kapan akan terjadi, mengapa terjadi dan apa konsekuensinya. Kontrol
informasi ini dapat membantu meningkatkan kemampuan seseorang dalam memprediksi
dan mempersiapkan yang akan terjadi dan mengurangi ketakutan seseorang dalam
menghadapi sesuatu yang tidak diketahui, sehingga dapat mengurangi stress.
e. Retrospective
control, Kemampuan untuk menyinggung tentang kepercayaan mengenai apa atau
siapa yang menyebabkan sebuah peristiwa yang menekan setelah hal tersebut
terjadi. Individu berusaha mencari makna dari setiap peristiwa yang terjadi
dalam kehidupan. Hal ini bukan berarti individu mengontrol setiap peristiwa
yang terjadi, namun individu berusaha memodifikasi pengalaman stress tersebut
untuk mengurangi kecemasan.
B. Ciri-ciri Pengendalian
diri
Ciri-ciri seseorang mempunyai kontrol diri antara lain :
a. Kemampuan untuk
mengontrol perilaku yang ditandai dengan kemampuan menghadapi situasi yang
tidak diinginkan dengan cara mencegah atau menjauhi situasi tersebut, mampu
mengatasi frustasi dan ledakan emosi.
b. Kemampuan menunda
kepuasan dengan segera untuk mengatur perilaku agar dapat mencapai sesuatu yang
lebih berharga atau lebih diterima oleh masyarakat
c. Kemampuan
mengantisipasi peristiwa dengan mengantisipasi keadaan melalui pertimbangan
secara objektif.
d. Kemampuan menafsirkan
peristiwa dengan melakukan penilaian dan penafsiran suatu keadaan dengan cara
memperhatikan segi-segi positif secara subjektif
e. Kemampuan
mengontrol keputusan dengan cara memilih suatu tindakan berdasarkan pada
sesuatu yang diyakini atau disetujuinya.
Orang yang rendah kemampuan mengontrol diri cenderung akan
reaktif dan terus reaktif (terbawa hanyut ke dalam situasi yang sulit).
Sedangkan orang yang tinggi kemampuan mengendalikan diri akan cenderung
proaktif (punya kesadaran untuk memilih yang positif). Untuk mengecek sejauh
mana kita punya kemampuan mengendalikan diri, kita bisa melihat petunjuk di
bawah ini:
C. Faktor-faktor yang
mempengaruhi Pengendalian diri
a. Kepribadian.
Kepribadian mempengaruhi control diri dalam konteks bagaimana seseorang dengan
tipikal tertentu bereaksi dengan tekanan yang dihadapinya dan berpengaruh pada
hasil yang akan diperolehnya. Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda
(unik) dan hal inilah yang akan membedakan pola reaksi terhadap situasi yang
dihadapi. Ada seseorang yang cenderung reaktif terhadap situasi yang dihadapi,
khususnya yang menekan secara psikologis, tetapi ada juga seseorang yang lamban
memberikan reaksi.
b. Situasi. Situasi
merupakan faktor yang berperan penting dalam proses kontrol diri. Setiap orang
mempunyai strategi yang berbeda pada situasi tertentu, dimana strategi tersebut
memiliki karakteristik yang unik. Situasi yang dihadapi akan dipersepsi berbeda
oleh setiap orang, bahkan terkadang situasi yang sama dapat dipersepsi yang
berbeda pula sehingga akan mempengaruhi cara memberikan reaksi terhadap situasi
tersebut. Setiap situasi mempunyai karakteristik tertentu yang dapat
mempengaruhi pola reaksi yang akan dilakukan oleh seseorang.
c. Etnis.
Etnis atau budaya mempengaruhi kontrol diri dalam bentuk keyakinan atau
pemikiran, dimana setiap kebudayaan tertentu memiliki keyakinan atau nilai yang
membentuk cara seseorang berhubungan atau bereaksi dengan lingkungan. Budaya
telah mengajarkan nilai-nilai yang akan menjadi salah satu penentu terbentuknya
perilaku seseorang, sehingga seseorang yang hidup dalam budaya yang berbeda
akan menampilkan reaksi yang berbeda dalam menghadapi situasi yang menekan,
begitu pula strategi yang digunakan.
d. Pengalaman.
Pengalaman akan membentuk proses pembelajaran pada diri seseorang. Pengalaman
yang diperoleh dari proses pembelajaran lingkungan keluarga juga memegang peran
penting dalan kontrol diri seseorang, khususnya pada masa anak-anak. Pada masa
selanjutnya seseorang bereaksi dengan menggunakan pola fikir yang lebih
kompleks dan pengalaman terhadap situasi sebelumnya untuk melakukan tindakan,
sehingga pengalaman yang positif akan mendorong seseorang untuk bertindak yang
sama, sedangkan pengalaman negatif akan dapat merubah pola reaksi terhadap
situasi tersebut.
e. Usia.
Bertambahnya usia pada dasarnya akan diikuti dengan bertambahnya kematangan
dalam berpikir dan bertindak. Hal ini dikarenakan pengalaman hidup yang telah
dilalui lebih banyak dan bervariasi, sehingga akan sangat membantu dalam
memberikan reaksi terhadap situasi yang dihadapi. Orang yang lebih tua
cenderung memiliki control diri yang lebih baik dibanding orang yang lebih
muda.
D. Prinsip-prinsip dalam mengendalikan
diri
1. Prinsip kemoralan.
Setiap agama pasti mengajarkan moral yang baik bagi setiap pemeluknya, misalnya
tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak
mabuk-mabukan, tidak melakukan tindakan asusila maupun tidak merugikan orang
lain. Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, maka kita
dapat bersegera lari ke rambu-rambu kemoralan. Apakah yang kita lakukan ini
sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama? Saat terjadi
konflik diri antara ya atau tidak, mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu
pada prinsip moral di atas.
2. Prinsip kesadaran.
Prinsip ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa sadar saat suatu bentuk
pikiran atau perasaan yang negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu
menangkap pikiran atau perasaan yang muncul, sehingga mereka banyak dikuasai
oleh pikiran dan perasaan mereka. Misalnya seseorang menghina atau menyinggung
kita, maka kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi
marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan
ini. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi marah ini
muncul, menguasai diri kita dan kemungkinan akan melakukan tindakan yang akan
merugikan diri kita dan orang lain. Saat kita berhasil mengamati emosi maka
kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Jika masih belum bisa atau dirasa
berat sekali untuk mengendalikan diri, maka kita dapat melarikan pikiran kita
pada prinsip moral.
3. Prinsip perenungan.
Ketika kita sudah benar-benar tidak tahan untuk meledakkan emosi karena amarah
dan perasaan tertekan, maka kita bisa melakukan sebuah perenungan. Kita bisa
menanyakan pada diri sendiri tentang berbagai hal, misalnya apa untungnya saya
marah, apakah benar reaksi saya seperti ini, mengapa saya marah atau apakah
alasan saya marah ini sudah benar. Dengan melakukan perenungan, maka kita akan
cenderung mampu mengendalikan diri. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa
saat emosi aktif maka logika kita tidak jalan, sehingga saat kita melakukan
perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau
keinginan kita akan cenderung menurun.
4. Prinsip kesabaran.
Pada dasarnya emosi kita naik – turun dan timbul, tenggelam. Emosi yang
bergejolak merupakan situasi yang sementara saja, sehingga kita perlu
menyadarinya bahwa kondisi ini akan segera berlalu seiring bergulirnya waktu.
Namun hal ini tidaklah mudah karena perlu adanya kesadaran akan kondisi emosi
yang kita miliki saat itu dan tidak terlalu larut dalam emosi. Salah satu cara
yang perlu kita gunakan adalah kesabaran, menunggu sampai emosi negatif
tersebut surut kemudian baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana
dan bertanggung jawab (reaksi yang tepat).
5. Prinsip pengalihan
perhatian. Situasi dan kondisi yang memberikan tekanan psikologis sering
menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran yang cukup banyak bagi seseorang untuk
menghadapinya. Apabila berbagai cara (4 prinsip sebelumnya) sudah dilakukan
untuk berusaha menghadapi namun masih sulit untuk mengendalikan diri, maka kita
bisa menggunakan prinsip ini dengan menyibukkan diri dengan pikiran dan
aktifitas yang positif. Ketika diri kita disibukkan dengan pikiran positif yang
lain, maka situasi yang menekan tersebut akan terabaikan. Begitu pula manakala
kita menyibukkan diri dengan aktifitas lain yang positif, maka emosi yang ingin
meledak akibat peristiwa yang tidak kita sukai tersebut akan menurun bahkan
hilang. Saat kita berhasil memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif
maka emosi kita akan ikut berubah kearah yang positif juga.
https://konsultasisyariah.com/18243-cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam.html
https://konsultasisyariah.com/18243-cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar