Disiplin adalah sikap yang selalu tepat janji, sehingga orang
lain mempercayainya, karena modal utama dalam berwirausaha adalah memperoleh
kepercayaan dari orang lain.
Disiplin berasal dari bahasa Inggris yaitu “disciple” yang berarti pengikut atau murid. Perkataan disiplin mempunyai arti latihan dan ketaatan kepada aturan. Dengan melaksanakan disiplin, berarti semua pihak dapat menjamin kelangsungan hidup dan kelancaran kegiatan belajar, bekerja, dan berusaha. Kemauan kerja keras yang kita peroleh dari disiplin, akan melahirkan mental yang kuat dan tidak mudah menyerah walaupun dalam keadaan sulit.
Disiplin berasal dari bahasa Inggris yaitu “disciple” yang berarti pengikut atau murid. Perkataan disiplin mempunyai arti latihan dan ketaatan kepada aturan. Dengan melaksanakan disiplin, berarti semua pihak dapat menjamin kelangsungan hidup dan kelancaran kegiatan belajar, bekerja, dan berusaha. Kemauan kerja keras yang kita peroleh dari disiplin, akan melahirkan mental yang kuat dan tidak mudah menyerah walaupun dalam keadaan sulit.
Disiplin diri sendiri
memberikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Menolong kita untuk mengotrol sikap mental.
b. Mengatasi kegagalan, kemiskinan, nasib buruk.
c. Membentuk pola pikir logis.
d. Mengamankan dari perasaan takut.
e. Mengontrol batin dan mengarahkannya pada tujuan.
a. Menolong kita untuk mengotrol sikap mental.
b. Mengatasi kegagalan, kemiskinan, nasib buruk.
c. Membentuk pola pikir logis.
d. Mengamankan dari perasaan takut.
e. Mengontrol batin dan mengarahkannya pada tujuan.
Unsur-unsur Disiplin
Sebelum seseorang memiliki sikap disiplin maka akan didahului
oleh serangkaian sikap yang akan mendorong terbentuknya sikap disiplin.
Sikap-sikap inilah yang kemudian disebut sebagai unsur-unsur disiplin.
Unsur-unsur disiplin meliputi tiga hal, antara lain:
- Pemahaman
yang baik mengenai sistem peraturan, perilaku, norma, kriteria dan standar
sehingga menumbuhkan pengertian yang mendalam.
- Sikap
mental (mental attitude). Sikap mental merupakan sikap taat dan
tertib sebagai hasil dan pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran,
dan pengendalian watak.
- Sikap
kelakuan yang wajar yang menunjukkan kesungguhan hati untuk
mentaati segala hal secara hormat dan tertib.
Elizabeth B. Hurlock (1970:74) mengemukakan unsur-unsur
disiplin yang diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan
standar yang ditetapkan kelompok sosial mereka. Ia harus mempunyai empat unsur
pokok, yaitu:
a. Peraturan
Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku.
Pola tersebut bisa ditetapkan oleh orang tua, guru atau teman bermain.
Tujuannya adalah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam
situasi-situasi tertentu.
b. Hukuman
Hukuman mempunyai peran antara lain menghalangi pengulangan
tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat, mendidik anak membedakan mana
yang benar dan mana yang salah, serta memberi motivasi untuk menghindari
perilaku yang tidak diterima masyarakat.
c. Penghargaan
Penghargaan berarti tiap bentuk pemberian untuk suatu hasil
yang baik. Penghargaan mempunyai nilai mendidik, sebagai motivasi untuk
mengulang perilaku yang disetujui secara sosial, memperkuat perilaku yang
disetujui secara sosial.
d. Konsistensi
Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas.
Harus ada konsistensi dalam peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku,
konsistensi dalam cara peraturan ini diajarkan dan dipaksakan,
dalam hukuman yang diberikan pada mereka yang tidak menyesuaikan pada standar
dan dalam penghargaan bagi mereka yang menyesuaikan.
Cara Menanamkan Disiplin
Elizabeth B. Hurlock (1997:93) mengemukakan bahwa cara-cara
menanamkan disiplin dapat dibagi menjadi tiga cara, yaitu:
a. Mendisiplinkan dengan Otoriter
Peraturan dan pengaturan yang keras untuk memaksakan perilaku
yang diinginkan menandai semua jenis disiplin yang otoriter. Tekniknya mencakup
hukuman yang berat bila terjadi kegagalan memenuhi standar dan sedikit, atau
sama sekali tidak adanya persetujuan, pujian atau tanda-tanda penghargaan
lainnya bila anak memenuhi standar yang diharapkan.
b. Mendisiplinkan dengan Permisif
Disiplin permisif sebenarnya berarti sedikit disiplin
atau tidak disiplin. Biasanya disiplin permisif tidak membimbing ke pola
perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman.
Dalam hal ini tidak diberi batas-batas atau kendala yang mengatur apa saja yang
boleh dilakukan, mereka diijinkan untuk mengambil keputusan sendiri dan berbuat
sekehendak mereka sendiri.
c. Mendisiplinkan dengan Demokratis
Metode demokratis menggunakan menggunakan penjelasan, diskusi
dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu
diharapkan. Metode ini lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin daripada
aspek hukuman. Disiplin demokratis menggunkan hukuman dan penghargaan. Hukuman
tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan.
Hurlock,
Elizabeth. 1970. Perkembangan Anak. Erlangga: Jakarta.
Lemhannas.
1995. Disiplin Nasional. Balai Pustaka: Jakarta.
Mar’at.
1984. Sikap Manusia: Perubahan Serta Pengukurannya. Jakarta:
Ghalia Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar